BAB
I
PENDAHULUAN
Para ulama yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan
kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir sehingga Islam masuk di
Kalimantan. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo
kala itu melalui dua jalur. Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke
tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah
Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat
dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan
mendiami pesisir Barat Kalimantan.
Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh
yang dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke
Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan
banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan
Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah
Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. Sejak abad ke-14 sampai awal abad ke-16 yakni
sebelum terbentuknya Kerajaan Banjar yang berorientasikan Islam, di Kalimantan
Selatan telah terjadi proses pembentukan negara dalam dua fase. Pertama yaitu
fase yang disebut dengan Negara Suku (etnic state) yang diwakili oleh Negara
Nan Sarunai milik orang Maanyan. Fase kedua adalah negara awal (early state)
yang diwakili oleh Negara Dipa dan Negara Daha.
Terbentuknya Negara Dipa dan Negara Daha menandai zaman klasik di
Kalimantan Selatan. Negara Daha akhirnya lenyap seiring dengan terjadinya
pergolakan istana, sementara lslam mulai masuk dan berkembang disamping
kepercayaan lama. Zaman Baru ditandai dengan lenyapnya Kerajaan Negara Daha
beralih ke periode negara kerajaan (kingdom state) dengan lahirnya kerajaan
baru, yaitu Kerajaan Banjar pada tahun 1526 yang menjadikan Islam sebagai dasar
dan agama resmi kerajaan.
BAB II
PEMBAHASAN
MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM DI KALIMANTAN
Islam pertama kali masuk di Kalimantan adalah di daerah utara tepatnya di
daerah Brunai sekitar pada tahun 1500 M. Setelah raja Brunai memeluk Islam
(sekitar 1520), maka Brunai menjadi pusat penyiaran agama Islam sehingga Islam
sampai ke Pilipina. Pusat penyebaran Islam yang lain adalah di Kalimantan Barat
di dekat Muara Sambas. Islam masuk ke daerah ini diperkirakan pada abad XVI di
bawa oleh orang-orang dari Johor, menyusul kemudian daerah Sambas ditaklukkan
oleh kerajaan Johor.
Adapun masuknya Islam di Kalimantan Selatan terjadi sekitar 1550 M atas
pengaruh dari Jawa. Dikatakan bahwa raja-raja di Kalimantan Selatan memeluk
agama Islam setelah mendapat bantuan dari Sultan Demak.
Daerah Timur Kalimantan terdapat kerajaan Bugis yang mendapat pengaruh Islam sekitar tahun 1620 M. Islam masuk ke daerah ini melalui jalan perkawinan orang-orang Arab dengan putri-putri raja di daerah ini.
Daerah Timur Kalimantan terdapat kerajaan Bugis yang mendapat pengaruh Islam sekitar tahun 1620 M. Islam masuk ke daerah ini melalui jalan perkawinan orang-orang Arab dengan putri-putri raja di daerah ini.
A.
Masuknya Islam di Kalimantan Barat
Menurut pendapat yang dikemukakan
oleh Sendam, 1970:35 “Islam masuk di Kalimantan Barat yaitu sekitar abad 15 M,
melalui perdagangan dan tidak melalui organisasi misi, tetapi merupakan
kegiatan perorangan”. Para penyiar agama Islam ini datang sambil
berdagang di Kalimantan dengan menyusuri sungai-sungai besar, secara
berangsur-angsur pengaruh Islam pun masuk ke seluruh wilayah
Kalimantan
Salah seorang yang
menyebarkan agama Islam di kalimantan barat ialah Habib Husein
Al-Kadri, beliau berasal dari Hadramaut (daerah bagian selatan
jazirah arab). Penduduk Hadramaut gemar berdagang dan berlayar karena letak
daerahnya yang berada di ujung selatan Jazirah Arab di teluk Aden yang
merupakan jalur pelayaran internasional (Rahman, 2000:13). Kegemaran penduduk
Hadramaut tersebut yang kemudian memicu hasrat Habib Husein untuk berlayar
lebih jauh ke negeri timur dimana banyak terdapat keraajan beragama Islam.
Hasratnya tersebut diperkukuh
oleh tiga orang seperguruannya yaitu, Sayid Abu Bakar Alaydrus, Sayid Umar
Bachsan Assegaf, dan Sayid Umar Muhammad Ibnu Ahmad Quraisy (Rahman,
2000:14-15). Sahabat dari Habib Husein ini menetap di Aceh, Siak, dan di
Semenanjung Malayu. Habib Husein sendiri meneruskan pelayaran ke Pulau Jawa
yaitu di daerah Semarang. Selama dua tahun tinggal di Semarang,
kemudian ia melanjutkan ke daerah Sukadana (Matan). Kemudian ia menikah dengan
putri raja Matan, yaitu Nya’i Tua yang kemudian memiliki empat orang anak, yang
salah satunya bernama Syarif Abdurahman Al-Kadri.
Setelah menetap 17 tahun di
Sukadana, Habib Husein hijrah ke Mempawah atas permintaan raja Opu Daeng
Menambun, untuk menjadi guru agama disana. Di Mempawah Syarif Abdurahman
kemudian menikah dengan putri Opu Daeng, yang bernama Utin Tjandramidi. Di
Mempawah ini menjadi tempat bermukim terakhir Habib Husein sampai ia wafat pada
tahun 1770 M. Habib Husein Al Kadri selama menyebarkan ajaran Islam di
Kalimantan Barat telah menjadi mufti peradilan agama Islam di Kerajaan Mempawah
selama 15 tahun di kerajaan Opu Daeng Menambun.
Setelah ayahnya wafat Syarif Abdurahman
bersama-sama dengan saudaranya mencari tempat kediaman baru. Syarif Abdurahman
pergi bersama saudara-sauranya menyusuri pantai kemudian menuju sungai Kapuas.
Ketika menyusuri sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau yang kini dikenal
dengan nama Batu Layang. Menjelang subuh 14 Rajab 1185 H atau 23 Oktober 1771,
mereka sampai pada persimpangan sungai Kapuas dan Landak. Di daerah tersebut
Syarif Abdurahman membangun rumah dan tempat ibadah yang sekarang menjadi
Istana Qadriyah dan Masjid Sultan Abdurahman. Pada tanggal 8 bulan Sya'ban 1778
M, dengan di hadiri Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu, dan
Matan.Syarif Abdurahman dinobatkan sebagai sultan Pontianak dengan gelar Syarif
Abdurahman Ibnu Habib Al-Kadri.
Bukti yang dapat memperjelas
masuknya Islam di Kalimantan Barat yaitu:
1.
Melalui Perkawinan
Hal ini dibuktikan dimana adanya perkawinan campuran
yang dilakukan oleh orang Muslim dengan non Muslim yang kemudian menjadi
muallaf pada kerajaan Pontianak yang rajanya bernama Habib Husein dengan Nya’i
Tua putri Dayak dari kerajaan Matan.
2.
Melalui Perdagangan
Mayoritas penduduk Kalimantan Barat yang tinggal di
daerah pesisir pantai atau sungai. Islam disebarluaskan dan berkembang melalui
kegiatan perdagangan mulanya di kawasan pantai seperti Kota Pontianak, Ketapang
atau Sambas kemudian menyebar ke perhuluan sungai.
3.
Melalui Dakwah
Agama Islam diajarkan secara damai dan salah satunya
diajarka melalui metode dakwah yang dilakukan oleh para mubaligh dan guru.
Adapun nama-nama mubaligh dan guru dalam menyebarkan agama Islam di Kalimantan
Barat tersebut pada awal abad 20 menurut Mohd Malik (1985:48) diantaranya
adalah Haji Mustafa dari Banjar (1917-1918), Syeh Abdurahman dari Taif, Madinah
(1926-1932), Haji Abdul Hamid dari Palembang (1932-1937), Sulaiman dari Nangah
Pinoh dan Haji Ahmad asal Jongkong. Para mubaligh dan guru agama ini
mengajarkan membaca Al-qur’an, fiqih, Hadits, dan ilmu agama islam lainnya,
dilakukan di masjid ataupun rumah. Dalam pengajaran membaca Al-qur’an mereka
menggunakan metode Baqdadiyah.
4.
Melalui Kesenian
Islam disebarkan kepada masyarakat Kalbar juga melalui
kesenian tradisional. Ini dapat diuktikan pada masyarakat di Cupang Gading.
Sastra tradisional yang ada di Cupang Gading memperlihatkan adanya nilai-nilai
keislaman. Dengan mengkolaborasikan antara nilai Islam dengan nilai kesenian
ini memberikan kemudahan dalam menyebarkan Islam itu sendiri.
Berpadunya nilai lokal dengan Islam dapat dilihat melalui
prosa rakyat yang dikenal dengan istilah bekesah dan melalui kesenian
Jepin Lembut (tarian khas sambas) yang ada didaerah Sambas. Dengan
berbagai macam kesenian inilah yang kemudian dijadikan media dakwah
dalam menyebarkan Islam di Kalbar.
B.
Masuknya Islam di Kalimantan Selatan
Situasi politik di
daerah Kalimantan Selatan menjelang Islam banyak diketahui dari sumber
historiografi tradisional yakni Hikayat Lambung Mangkurat atau Hikayat Banjar.
Sumber tersebut memberitahukan bahwa di daerah Kalimantan Selatan telah berdiri
kerajaan yang bercorak Hindu Negara Dipa yang berlokasi sekitar Amuntai dan
kemudian dilanjutkan dengan Negara Daha sekitar Negara sekarang.
Menjelang datangnya
Islam ke daerah Kalimantan Selatan kerajaan yang bercorak Hindu telah berpindah
dari Negara Dipa ke Negara Daha diperintah oleh Maharaja Sukarama, mertua Ratu
Lemak. Setelah dia meninggal dia digantikan oleh Pangeran Tumenggung yang
menimbulkan sengketa dengan Pangeran Samudera cucu Maharaja Sukarama, yang
dilihat dari segi institusi kerajaan mempunyai hak mewarisi tahta kerajaan.
Dengan demikian Negara Daha adalah benteng terakhir dari institusi kerajaan
bercorak Hindu dan setelah itu digantikan dengan institusi bercorak Islam.
Sunan Giri sangat
besar terhadap perkembangan kerajaan Islam Demak. Sunan Girilah yang memberikan
gelar Sultan kepada raja Demak. Dalam hal ini sangat menarik perhatian hubungan
antara Sunan Giri dengan daerah Kalimantan Selatan. Dalam Hikayat Lambung Mangkurat
diceritakan tentang Raden Sekar Sungsang dari Negara Dipa yang lari ke Jawa.
Ketika dia masih kecil kelakuannya menjengkelkan ibunya Puteri Kaburangan, yang
juga dikenal sebagai Puteri Kalungsu. Waktu dia kecil karena sering mengganggu
ibunya, dia dipukul di kepalanya dan mengeluarkan darah. Sejak itu dia lari dan
ikut dengan juragan Petinggi atau Juragan Balaba yang berasal dari Surabaya.
Juragan Balaba memeliharanya sebagai anaknya sendiri dan setelah dewasa dia
dikawinkan dengan puteri Juragan Balaba sendiri.
Dia mempunyai dua
orang putera Raden Panji Sekar dan Raden Panji Dekar. Keduanya berguru pada
Sunan Giri, Raden Sekar kemudian diambil menjadi menantu Sunan Giri dan
kemudian bergelar Sunan Serabut. Raden Sekar Sungsang kemudian kembali menjalankan
perdagangan sampai ke Negara Dipa. Dengan penampilan yang tampan Raden Sekar
Sungsang adalah seorang pedagang dari Jawa, yang banyak mengadakan hubungan
perdagangan dengan pihak kerajaan Negara Dipa. Akhirnya dia kawin dengan Puteri
Kalungsu penguasa Negara Dipa, yang sebetulnya adalah ibunya sendiri. Setelah
Puteri Kalungsu hamil barulah terungkap bahwa suaminya adalah anaknya yang dulu
hilang. Mereka bercerai, Raden Sekar Sungsang memindahkan pemerintahannya
menjadi Negara Daha, yang berlokasi sekitar Negara sekarang, sedangkan Ibunya
tetap di Negara Dipa sekitar Amuntai sekarang. Raden Sekar Sungsang yang
menurunkan Raden Samudera yang menjadi Sultan Suriansyah raja pertama dari
Kerajaan Banjar.
Raden Sekar Sungsang
Menjadi raja pertama dari Negara Daha dengan gelar Maharaja Sari Kaburangan.
Selama dia berkuasa hubungan dengan Giri tetap terjalin dengan pembayaran upeti
tiap tahun.Yang menjadi masalah adalah, kalau Raden Sekar Sungsang selama di
Jawa kawin dengan melahirkan putera Raden Panji Sekar selanjutnya menjadi
menantu Sunan Giri, adalah hal mungkin sekali bahwa Raden Sekar Sungsang juga
telah memeluk agama Islam. Raden Panji Sekar menjadi seorang ulama yang
bergelar Sunan Serabut, adalah hal yang wajar kalau ayahnya sendiri Raden Sekar
Sungsang telah memeluk agama Islam meskipun keimanannya belum kuat. Kalau
anggapan ini benar maka Raden Sekar Sungsang raja dari Negara Daha dari
Kerajaan Hindu yang telah beragama Islam pertama sebelum Sultan Suriansyah.
Kalau benar bahwa
Raden Sekar Sungsang yang bergelar Sari Kaburangan telah beragama Islam,
mengapa dia tidak menyebarkan Islam itu pada rakyatnya. Hal ini terdapat
beberapa kemungkinan. Kemungkinannya antara lain bahwa agama Hindu masih
terlalu kuat, sehingga lebih baik menyembunyikan ke Islamannya, atau memang
keimanannya belum kuat. Tetapi yang dapat disimpulkan bahwa Islam telah
menyelusup di daerah Negara Daha Kalimantan Selatan, sekitar abad ke 13-14
Masehi.
A.A. Cense dalam
bukunya “De Kroniek van Banjarmasin”, menjelaskan bahwa ketika Pangeran
Samudera berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung raja Negara Daha.
Pangeran Samudera menghadapi bahaya yang berat yaitu kelaparan di kalangan
pengikutnya. Atas usul Patih Masih Pangeran Samudera meminta bantuan pada
Kerajaan Islam Demak yang saat itu kerajaan terkuat setelah Majapahit. Patih
Balit diutus menghadap Sultan Demak dengan 400 pengiring dan 10 buah kapal.
Patih Balit menghadap Sultan Tranggana dengan membawa sepucuk surat dari
Pangeran Samudera. F.S.A. De Clereq dalam bukunya. De Vroegste
Geschiedenis van Banjarmasin (1877) halaman 264 memuat isi surat Pangeran
Samudera itu. Surat itu tertulis dalam bahasa Banjar dalam huruf Arab-Melayu.
Isi surat itu adalah
: “Salam sembah putera andika Pangeran di Banjarmasin datang kepada Sultan Demak.
Putera andika menantu nugraha minta tolong bantuan tandingan lawan sampean
kerana putera andika berebut kerajaan lawan parnah mamarina yaitu namanya
Pangeran Tumenggung. Tiada dua-dua putera andika yaitu masuk mengula pada
andika maka persembahan putera andika intan 10 biji, pekat 1.000 galung, tudung
1.000 buah, damar 1.000 kandi, jeranang 10 pikul dan lilin 10 pikul”. Yang
menarik dari surat ini adalah bahwa surat itu tertulis dalam huruf Arab. Kalau
huruf Arab sudah dikenal oleh Pangeran Samudera, adalah jelas menunjukkan bukti
bahwa masyarakat Islam sudah lama terbentuk di Banjarmasin. Terbentuknya
masyarakat Islam dan lahirnya kepandaian membaca dan menulis huruf Arab
memerlukan waktu yang cukup lama. Kalau Kerajaan Islam Banjar terbentuknya pada
permulaan abad ke- 16, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa masyarakat Islam
di Banjarmasin sudah terbentuk pada abad ke- 15. Karena itulah masuknya agama
Islam ke Kalimantan Selatan setidak-tidaknya terjadi pada permulaan abad ke-
15.
Perdagangan sangat ramai
setelah bandar pindah ke Banjarmasin. Disini dapat pula kita lihat perbedaan
perekonomian antara Negara Daha dan Banjarmasin. Negara Daha menitik beratkan
pada ekonomi pertanian sedangkan Banjarmasin menitik beratkan pada perekonomian
perdagangan. Hubungan itu terutama adalah hubungan ekonomi perdagangan dan
akhirnya meningkat menjadi hubungan bantuan militer ketika Pangeran Samudera
berhadapan dengan Raja Daha Pangeran Tumenggung.
Pangeran Samudera
adalah cikal bakal raja-raja Banjarmasin. Dia adalah cucu Maharaja Sukarama
dari Negara Daha. Pangeran Samudera terpaksa melarikan diri demi keselamatan
dirinya dari ancaman pembunuhan pamannya Pangeran Tumenggung raja terakhir dari
Negara Daha. Patih Masih adalah Kepala dari orang-orang Melayu atau Oloh Masih
dalam Bahasa Ngaju.
Sebagai seorang Patih
atau kepala suku, tidaklah berlebihan kalau dia sangat memahami situasi politik
Negara Daha, apalagi juga dia mengetahui tentang kewajiban sebagai daerah
takluk dari Negara Daha, dengan berbagai upeti dan pajak yang harus diserahkan
ke Negara Daha. Patih Masih mengadakan pertemuan dengan Patih Balit, Patih
Muhur, Patih Balitung, Patih Kuwin untuk mencari jalan agar jangan
terus-menerus desa mereka menjadi desa.
Mereka sepakat
mencari Pangeran Samudera cucu Maharaja Sukarama yang menurut sumber berita
sedang bersembunyi di daerah Balandean, Serapat, karena Pangeran Tumenggung
yang sekarang Menjadi raja di Negara Daha pamannya sendiri ingin membunuh
Pangeran Samudera. Pangeran Samudera dirajakan di kerajaan baru Banjar setelah
berhasil merebut bandar Muara Bahan, bandar dari Negara Daha dan memindahkan
bandar tersebut ke Banjar dengan para pedagang dan penduduknya.
Bagi Pangeran
Tumenggung sebagai raja Negara Daha, hal ini berarti suatu pemberontakan yang
tidak dapat dimaafkan dan harus dihancurkan, perang tidak dapat dihindarkan
lagi. Pangeran Tumenggung kalah, mundur dan bertahan di muara sungai Amandit.
Dalam perjalanan
sejarah raja-raja di Kalimantan Selatan, bila diteliti dengan seksama nampak
bahwa pergantian raja-raja dari Negara Daha sampai Banjarmasin dari:
1.
Maharaja Sari Kaburangan/Raden Sekar Sungsang
2.
Maharaja Sukarama
3.
Pangeran Mangkubumi/Raden Manteri
4.
Pangeran Tumenggung
5.
Pangeran Samudera
Bukan pergantian yang
lumrah dari ayah kepada anak tapi dari tangan musuh yang satu ketangan musuh
yang lain, melalui revolusi istana. Raden Sekar
Sungsang usurpator pertama adalah pembangunan dinasti Hindu Negara
Daha, dan Pangeran Samudera usurpator kedua adalah pembangun dinasti
Islam Banjarmasin.
C.
Masuknya Islam di Kalimantan Timur
Pada masa
pemerintahan Aji Raja Mahkota (1525-600) kerajaan Kutai Kartanegara kedatangan
dua orang ulama dari Makassar, yaitu Syekh Abdul Qadir Khatib Tunggal yang
bergelar Datok Ri Bandang dan Datok Ri Tiro yang dikenal dengan gelar Tunggang
Parangan. Seperti yang di kisahkan dalam Silsilah Kutai, tujuan kedatangan dua
ulama tersebut adalah untuk menyebarkan agama islam dengan cara mengajak Aji
Raja Mahkota Untuk memeluk agama Islam, pada awalnya ajakan ulama ini di tolak
oleh Aji Raja Mahkota dengan alasan bahwa agama di kerajaan Kutai Kartanegara
adalah Hindu.
Langkah dakwah kedua
ulama ini untuk mengajak Aji Raja Mahkota di tolak oleh sang Raja. Bahkan
karena langkah dakwah ini buntu, Tuan ri Bandang akhirnya memutuskan kembali ke
Makassar dan meninggalkan tunggang parangan di kerajaan Kutai Kartanegara.
Sebagai jalan akhir, Tunggang Parangan menawarkan solusi kepada Aji Raja
Mahkota untuk mengadu kesaktian dengan taruhan apabila Aji Raja Mahkota
kalah, maka sang raja bersedia untuk memeluk islam. Akan tetapi jika Aji Raja
Mahkota yang akan menang maka Tunggang Parangan akan mengabdikan hidupnya untuk
kerajaan Kutai Kartanegara.
Solusi Tunggang
Parangan di setujui oleh Raja Mahkota. Adu kesaktian akhirnya di gelar dan
berujung dengan kekalahan Aji Raja Mahkota. Sebagai konskuensi kekalahan, maka
Aji Raja Mahkota Akhirnya masuk Islam. Sejak Aji Raja Masuk Islam maka pengaruh
Hindu yang telah tertular lewat interaksi dengan kerajaan majapahit
lambat laun luntur dan berganti dengan pengaruh Islam dan sebagian rakyat yang
masih memilih untuk memeluk agama hindu kemudia tersisih dan berangsur-angsur
pindah ke daerah pinggiran kerajaan.
Perkembangan kerajaan
Kutai Kartanegara yang mempunyai lokasi berdekatan dengan kerajaan kutai yang
lebih dulu ada di Muara Kaman pada awalnya tidak menimbulkan friksi yang
berarti. Hanya saja ketika Kerajaan Kutai Kartanegara di perintah oleh Aji
Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura (1605-1635 M) terjadi perang
antara dua kerajaan besar ini. Di akhir perang Kerajaan Kutai dan Kerajaan
Kutai Kartanegara di lebur menjadi satu dengan nama Kerajaan Kutai Kartanegara
ing Martadipura. Raja pertama dari penggabungan dua kerajaan ini adalah Aji
Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura (1605-1635 M).
Pada masa
pemerintahan Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura, pengaruh Islam
yang telah masuk sejak pemerintahan Aji Raja Mahkota (1525-1600 M) telah
mengakar kuat. Islam sangat berpengaruh pada sistem pemerintahan Kerajaan Kutai
Karta Negara ing Martadipura. Indikator dari pengaruh islam terlihat pada
pemakaian Undang-Undang Dasar Kerajaan yang di kenal dengan nama “Panji
Salaten” yang terdiri dari 39 Pasal dan memuat sebuah kitab peraturan yang
bernama “Undang-Undang Beraja Nanti” yang memuat 164 Pasal peraturan. Kedua Undang-Undang
tersebut berisi peraturan tentang yang di sandarkan pada Hukum Islam.
Pemimpin pertama yang
memakai gelar “Sultan” adalah Aji Su;tan Muhammad Idris. Beliau merupakan
menantu dari Sultan Wajo La Madukelleng, seorang
bangsawan Bugis di Sulawesi Selatan. Pada saat rakyat Bugis di Sulawesi Selatan
sedang berperang melawan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), Sultan Wajo
meminta bantuan Aji Sultan Muhammad Idris. Permintaan bantuan pun di penuhi
oleh Aji Sultan Muhammad Idris. Kemudian berangkatlah rombongan Aji Sultan
Muhammad Idris ke Sulawesi Selatan untuk membantu Sultan Wajo La Madukelleng.
Dalam upaya memberikan bantuan tersebut Aji Sultan Muhammad Idris Meninggal
dunia.
Selama kepergian Aji
Sultan Muhammad Idris ke Sulawesi, kursi Sultan Kutai Kartanegara ing Martadi
pura di pegang oleh dewan perwakilan. Tetapi ketika Aji Sultan Muhammad Idris
Meninggal dalam pertempuran di Sulawesi, timbul perebutan tahta tentang
pengganti sultan. Perebutan tahta terjadi antara kedua anak Aji Sultan Muhammad
Idris, yaitu putra Mahkota Aji Imbut dan Aji Kado.
Pada awal awal
perebutan tahtta, Aji Imbut terdesak oleh Aji Kado dan lari ke Sulawesi, ke
tanah kakeknya, yaitu Sultan Wajo La MAdukelleng. Aji Imbut menggalang kekuatan
untuk kembali menyerang Aji Kado yang telah menduduki ibukota kesultanan Kutai
Kartanegara ing Martadipura yang terletak di pemarangan, karena ibukota
Kesultanan Kutai Kartanegara telah berpindah dari Kutai lama ke Pemarangan
sejak tahun 1732.
Aji Imbut Akhirnya
menyerang Aji Kado di Pemarangan. Di dukung oleh orang-orang Wajo dan Bugis dan
Aji Imbut berhasil mengalahkan Aji Kado dan memduduki singgasana Kesultanan
Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan Gelar Aji Marhum Muslihuddin
(1739-1782 M). sedangkan Aji Imbut dihukum mati dan dimakamkan di pulau
jembayan.
Di Kalimantan Timur
inilah dua orang da’i terkenal datang, yaitu Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang
Parangan, sehingga raja Kutai (raja Mahkota) tunduk kepada Islam diikuti oleh
para pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah ini
dibangunlah sebuah masjid. Tahun 1575 M, raja Mahkota berusaha menyebarkan
Islam ke daerah-daerah sampai ke pedalaman Kalimantan Timur sampai daerah Muara
Kaman, dilanjutkan oleh Putranya, Aji Di Langgar dan para penggantinya.
D.
Masuknya Islam di Kalimantan Tengah
seorang ulama yang telah berjasa besar dalam
menyebarkan ajaran Islam di Pulau Kalimantan, khususnya di wilayah
Kotawaringin. Ulama tersebut adalah Kiai Gede, seorang ulama asal Jawa yang
diutus oleh Kesultanan Demak untuk
menyebarkan ajaran Islam di Pulau
Kalimantan. Kedatangan Kiai Gede tersebut ternyata disambut baik
oleh Sultan Mustainubillah. Oleh sang Sultan, Kiai Gede kemudian ditugaskan
menyebarkan Islam di wilayah Kotawaringin, sekaligus membawa misi untuk
merintis kesultanan baru di wilayah ini.
Berkat jasa-jasanya yang besar dalam menyebarkan Islam
dan membangun wilayah Kotawaringin, Sultan Mustainubillah kemudian
menganugerahi jabatan kepada Kiai Gede sebagai Adipati di Kotawaringin dengan
pangkat Patih Hamengkubumi dan bergelar Adipati Gede Ing Kotawaringin. Namun,
hadiah yang paling berharga dari sang Sultan bagi Kiai Gede adalah dibangunnya
sebuah masjid yang kelak bukan sekedar sebagai tempat beribadah, melainkan juga
sebagai pusat kegiatan-kegiatan kemasyarakatan bagi Kiai Gede dan para
pengikutnya. Bersama para pengikutnya, yang waktu itu hanya berjumlah 40 orang,
Kiai Gede kemudian membangun Kotawaringin dari hutan belantara menjadi sebuah
kawasan permukiman yang cukup maju.
Kalaupun wilayah Kotawaringin sekarang ini menjadi
salah satu kota yang terbilang maju diKalimantan, hal itu tidak dapat dipisahkan dari jasa besar Kiai
Gede dan para pengikutnya. Kiai Gede membangun Sebuah Masjid yang bernama
Masjid Kiai Gede, Mesjid ini menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Kotawaringin.Masjid Kiai Gede dibangun pada tahun 1632
Miladiyah atau tahun 1052 Hijriyah, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah (1650-1678 M),
raja ke empat dari Kesultanan Banjarmasin.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Setelah Islam datang ke Indonesia terutama di Pulau Kalimantan banyak
perubahan-perubahan yang terjadi terutama bagi rakyat yang menengah ke bawah.
Mereka lebih di hargai dan tidak tertindas lagi karena Islam tidak mengenal sistem
kasta, karena semua masyarakat memiliki derajat yang sama. Islam juga membawa
perubahan-perubahan baik di bidang politik, ekonomi dan agama. Islam juga bisa
mempersatukan seluruh masyarakat Indonesia untuk melawan dan memgusir para
penjajah.
B.
SARAN
Kami yakin dalam penulisan makalah ini banyak sekali kekurangannya. Untuk
itu kami mohon kepada para pembaca agar dapat memberikan saran, kritikan, atau
mungkin komentarnya demi kelancaran tugas kelompok kami ini.
DAFTAR PUSTAKA
Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011
Muhammad Irsyad, Masuk dan Berkembangnya Islam
dan Sejarah Masjid Sultan Abdurahman Pontianak, Kalimantan
Barat. diakses 17 Januari 2016.
Musni Umberan, dkk, Sejarah Kebudayaan
Kalimantan, Jakarta: Balaipustaka, 1977
Ratu Suntiah dan Maslani, Sejarah Peradaban
Islam, Bandung: Interes Media, 2014