Selasa, 19 Januari 2016

MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM DI KALIMANTAN

BAB I
PENDAHULUAN
Para ulama yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir sehingga Islam masuk di Kalimantan. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo kala itu melalui dua jalur.  Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan. 
Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh yang dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. Sejak abad ke-14 sampai awal abad ke-16 yakni sebelum terbentuknya Kerajaan Banjar yang berorientasikan Islam, di Kalimantan Selatan telah terjadi proses pembentukan negara dalam dua fase. Pertama yaitu fase yang disebut dengan Negara Suku (etnic state) yang diwakili oleh Negara Nan Sarunai milik orang Maanyan. Fase kedua adalah negara awal (early state) yang diwakili oleh Negara Dipa dan Negara Daha.
Terbentuknya Negara Dipa dan Negara  Daha menandai zaman klasik di Kalimantan Selatan. Negara Daha akhirnya lenyap seiring dengan terjadinya pergolakan istana, sementara lslam mulai masuk dan berkembang disamping kepercayaan lama. Zaman Baru ditandai dengan lenyapnya Kerajaan Negara Daha beralih ke periode negara kerajaan (kingdom state) dengan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Banjar pada tahun 1526 yang menjadikan Islam sebagai dasar dan agama resmi kerajaan.
BAB II
PEMBAHASAN
MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM DI KALIMANTAN
Islam pertama kali masuk di Kalimantan adalah di daerah utara tepatnya di daerah Brunai sekitar pada tahun 1500 M. Setelah raja Brunai memeluk Islam (sekitar 1520), maka Brunai menjadi pusat penyiaran agama Islam sehingga Islam sampai ke Pilipina. Pusat penyebaran Islam yang lain adalah di Kalimantan Barat di dekat Muara Sambas. Islam masuk ke daerah ini diperkirakan pada abad XVI di bawa oleh orang-orang dari Johor, menyusul kemudian daerah Sambas ditaklukkan oleh kerajaan Johor.
Adapun masuknya Islam di Kalimantan Selatan terjadi sekitar 1550 M atas pengaruh dari Jawa. Dikatakan bahwa raja-raja di Kalimantan Selatan memeluk agama Islam setelah mendapat bantuan dari Sultan Demak.
Daerah Timur Kalimantan terdapat kerajaan Bugis yang mendapat pengaruh Islam sekitar tahun 1620 M. Islam masuk ke daerah ini melalui jalan perkawinan orang-orang Arab dengan putri-putri raja di daerah ini.

A.      Masuknya Islam di Kalimantan Barat
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Sendam, 1970:35 “Islam masuk di Kalimantan Barat yaitu sekitar abad 15 M, melalui perdagangan dan tidak melalui organisasi misi, tetapi merupakan kegiatan perorangan”.  Para penyiar agama Islam ini datang sambil berdagang di  Kalimantan dengan menyusuri sungai-sungai besar, secara berangsur-angsur pengaruh  Islam pun masuk ke seluruh wilayah Kalimantan
 Salah seorang yang menyebarkan agama Islam di kalimantan barat ialah Habib Husein Al-Kadri,  beliau berasal dari Hadramaut (daerah bagian selatan jazirah arab). Penduduk Hadramaut gemar berdagang dan berlayar karena letak daerahnya yang berada di ujung selatan Jazirah Arab di teluk Aden yang merupakan jalur pelayaran internasional (Rahman, 2000:13). Kegemaran penduduk Hadramaut tersebut yang kemudian memicu hasrat Habib Husein untuk berlayar lebih jauh ke negeri timur dimana banyak terdapat keraajan beragama Islam.
Hasratnya tersebut diperkukuh oleh tiga orang seperguruannya yaitu, Sayid Abu Bakar Alaydrus, Sayid Umar Bachsan Assegaf, dan Sayid Umar Muhammad Ibnu Ahmad Quraisy (Rahman, 2000:14-15). Sahabat dari Habib Husein ini menetap di Aceh, Siak, dan di Semenanjung Malayu. Habib Husein sendiri meneruskan pelayaran ke Pulau Jawa yaitu di  daerah Semarang. Selama dua tahun tinggal di Semarang, kemudian ia melanjutkan ke daerah Sukadana (Matan). Kemudian ia menikah dengan putri raja Matan, yaitu Nya’i Tua yang kemudian memiliki empat orang anak, yang salah satunya bernama Syarif Abdurahman Al-Kadri.
Setelah menetap 17 tahun di Sukadana, Habib Husein hijrah ke Mempawah atas permintaan raja Opu Daeng Menambun, untuk menjadi guru agama disana. Di Mempawah Syarif Abdurahman kemudian menikah dengan putri Opu Daeng, yang bernama Utin Tjandramidi. Di Mempawah ini menjadi tempat bermukim terakhir Habib Husein sampai ia wafat pada tahun 1770 M. Habib Husein Al Kadri selama menyebarkan ajaran Islam di Kalimantan Barat telah menjadi mufti peradilan agama Islam di Kerajaan Mempawah selama 15 tahun di kerajaan Opu Daeng Menambun.
Setelah ayahnya wafat Syarif Abdurahman bersama-sama dengan saudaranya mencari tempat kediaman baru. Syarif Abdurahman pergi bersama saudara-sauranya menyusuri pantai kemudian menuju sungai Kapuas. Ketika menyusuri sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau yang kini dikenal dengan nama Batu Layang. Menjelang subuh 14 Rajab 1185 H atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan sungai Kapuas dan Landak. Di daerah tersebut Syarif Abdurahman membangun rumah dan tempat ibadah yang sekarang menjadi Istana Qadriyah dan Masjid Sultan Abdurahman. Pada tanggal 8 bulan Sya'ban 1778 M, dengan di hadiri Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu, dan Matan.Syarif Abdurahman dinobatkan sebagai sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurahman Ibnu Habib Al-Kadri.
Bukti yang dapat memperjelas masuknya Islam di Kalimantan Barat yaitu:
1.      Melalui Perkawinan
Hal ini dibuktikan dimana adanya perkawinan campuran yang dilakukan oleh orang Muslim dengan non Muslim yang kemudian menjadi muallaf pada kerajaan Pontianak yang rajanya bernama Habib Husein dengan Nya’i Tua putri Dayak dari kerajaan Matan.
2.      Melalui Perdagangan
Mayoritas penduduk Kalimantan Barat yang tinggal di daerah pesisir pantai atau sungai. Islam disebarluaskan dan berkembang melalui kegiatan perdagangan mulanya di kawasan pantai seperti Kota Pontianak, Ketapang atau Sambas kemudian menyebar ke perhuluan sungai. 
3.      Melalui Dakwah
Agama Islam diajarkan secara damai dan salah satunya diajarka melalui metode dakwah yang dilakukan oleh para mubaligh dan guru. Adapun nama-nama mubaligh dan guru dalam menyebarkan agama Islam di Kalimantan Barat tersebut pada awal abad 20 menurut Mohd Malik (1985:48) diantaranya adalah Haji Mustafa dari Banjar (1917-1918), Syeh Abdurahman dari Taif, Madinah (1926-1932), Haji Abdul Hamid dari Palembang (1932-1937), Sulaiman dari Nangah Pinoh dan Haji Ahmad asal Jongkong. Para mubaligh dan guru agama ini mengajarkan membaca Al-qur’an, fiqih, Hadits, dan ilmu agama islam lainnya, dilakukan di masjid ataupun rumah. Dalam pengajaran membaca Al-qur’an mereka menggunakan metode Baqdadiyah.
4.      Melalui Kesenian
Islam disebarkan kepada masyarakat Kalbar juga melalui kesenian tradisional. Ini dapat diuktikan pada masyarakat di Cupang Gading. Sastra tradisional yang ada di Cupang Gading memperlihatkan adanya nilai-nilai keislaman. Dengan mengkolaborasikan antara nilai Islam dengan nilai kesenian ini memberikan kemudahan dalam menyebarkan Islam itu sendiri. Berpadunya  nilai lokal dengan  Islam dapat dilihat melalui prosa rakyat yang dikenal dengan istilah bekesah dan melalui kesenian Jepin Lembut (tarian khas sambas)  yang ada didaerah Sambas. Dengan berbagai macam kesenian inilah yang kemudian  dijadikan media dakwah dalam menyebarkan Islam di Kalbar.
B.       Masuknya Islam di Kalimantan Selatan
Situasi politik di daerah Kalimantan Selatan menjelang Islam banyak diketahui dari sumber historiografi tradisional yakni Hikayat Lambung Mangkurat atau Hikayat Banjar. Sumber tersebut memberitahukan bahwa di daerah Kalimantan Selatan telah berdiri kerajaan yang bercorak Hindu Negara Dipa yang berlokasi sekitar Amuntai dan kemudian dilanjutkan dengan Negara Daha sekitar Negara sekarang.
Menjelang datangnya Islam ke daerah Kalimantan Selatan kerajaan yang bercorak Hindu telah berpindah dari Negara Dipa ke Negara Daha diperintah oleh Maharaja Sukarama, mertua Ratu Lemak. Setelah dia meninggal dia digantikan oleh Pangeran Tumenggung yang menimbulkan sengketa dengan Pangeran Samudera cucu Maharaja Sukarama, yang dilihat dari segi institusi kerajaan mempunyai hak mewarisi tahta kerajaan. Dengan demikian Negara Daha adalah benteng terakhir dari institusi kerajaan bercorak Hindu dan setelah itu digantikan dengan institusi bercorak Islam.
Sunan Giri sangat besar terhadap perkembangan kerajaan Islam Demak. Sunan Girilah yang memberikan gelar Sultan kepada raja Demak. Dalam hal ini sangat menarik perhatian hubungan antara Sunan Giri dengan daerah Kalimantan Selatan. Dalam Hikayat Lambung Mangkurat diceritakan tentang Raden Sekar Sungsang dari Negara Dipa yang lari ke Jawa. Ketika dia masih kecil kelakuannya menjengkelkan ibunya Puteri Kaburangan, yang juga dikenal sebagai Puteri Kalungsu. Waktu dia kecil karena sering mengganggu ibunya, dia dipukul di kepalanya dan mengeluarkan darah. Sejak itu dia lari dan ikut dengan juragan Petinggi atau Juragan Balaba yang berasal dari Surabaya. Juragan Balaba memeliharanya sebagai anaknya sendiri dan setelah dewasa dia dikawinkan dengan puteri Juragan Balaba sendiri.
Dia mempunyai dua orang putera Raden Panji Sekar dan Raden Panji Dekar. Keduanya berguru pada Sunan Giri, Raden Sekar kemudian diambil menjadi menantu Sunan Giri dan kemudian bergelar Sunan Serabut. Raden Sekar Sungsang kemudian kembali menjalankan perdagangan sampai ke Negara Dipa. Dengan penampilan yang tampan Raden Sekar Sungsang adalah seorang pedagang dari Jawa, yang banyak mengadakan hubungan perdagangan dengan pihak kerajaan Negara Dipa. Akhirnya dia kawin dengan Puteri Kalungsu penguasa Negara Dipa, yang sebetulnya adalah ibunya sendiri. Setelah Puteri Kalungsu hamil barulah terungkap bahwa suaminya adalah anaknya yang dulu hilang. Mereka bercerai, Raden Sekar Sungsang memindahkan pemerintahannya menjadi Negara Daha, yang berlokasi sekitar Negara sekarang, sedangkan Ibunya tetap di Negara Dipa sekitar Amuntai sekarang. Raden Sekar Sungsang yang menurunkan Raden Samudera yang menjadi Sultan Suriansyah raja pertama dari Kerajaan Banjar.
Raden Sekar Sungsang Menjadi raja pertama dari Negara Daha dengan gelar Maharaja Sari Kaburangan. Selama dia berkuasa hubungan dengan Giri tetap terjalin dengan pembayaran upeti tiap tahun.Yang menjadi masalah adalah, kalau Raden Sekar Sungsang selama di Jawa kawin dengan melahirkan putera Raden Panji Sekar selanjutnya menjadi menantu Sunan Giri, adalah hal mungkin sekali bahwa Raden Sekar Sungsang juga telah memeluk agama Islam. Raden Panji Sekar menjadi seorang ulama yang bergelar Sunan Serabut, adalah hal yang wajar kalau ayahnya sendiri Raden Sekar Sungsang telah memeluk agama Islam meskipun keimanannya belum kuat. Kalau anggapan ini benar maka Raden Sekar Sungsang raja dari Negara Daha dari Kerajaan Hindu yang telah beragama Islam pertama sebelum Sultan Suriansyah.
Kalau benar bahwa Raden Sekar Sungsang yang bergelar Sari Kaburangan telah beragama Islam, mengapa dia tidak menyebarkan Islam itu pada rakyatnya. Hal ini terdapat beberapa kemungkinan. Kemungkinannya antara lain bahwa agama Hindu masih terlalu kuat, sehingga lebih baik menyembunyikan ke Islamannya, atau memang keimanannya belum kuat. Tetapi yang dapat disimpulkan bahwa Islam telah menyelusup di daerah Negara Daha Kalimantan Selatan, sekitar abad ke 13-14 Masehi.
A.A. Cense dalam bukunya “De Kroniek van Banjarmasin”, menjelaskan bahwa ketika Pangeran Samudera berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung raja Negara Daha. Pangeran Samudera menghadapi bahaya yang berat yaitu kelaparan di kalangan pengikutnya. Atas usul Patih Masih Pangeran Samudera meminta bantuan pada Kerajaan Islam Demak yang saat itu kerajaan terkuat setelah Majapahit. Patih Balit diutus menghadap Sultan Demak dengan 400 pengiring dan 10 buah kapal. Patih Balit menghadap Sultan Tranggana dengan membawa sepucuk surat dari Pangeran Samudera. F.S.A. De Clereq dalam bukunya. De Vroegste Geschiedenis van Banjarmasin (1877) halaman 264 memuat isi surat Pangeran Samudera itu. Surat itu tertulis dalam bahasa Banjar dalam huruf Arab-Melayu.
Isi surat itu adalah : “Salam sembah putera andika Pangeran di Banjarmasin datang kepada Sultan Demak. Putera andika menantu nugraha minta tolong bantuan tandingan lawan sampean kerana putera andika berebut kerajaan lawan parnah mamarina yaitu namanya Pangeran Tumenggung. Tiada dua-dua putera andika yaitu masuk mengula pada andika maka persembahan putera andika intan 10 biji, pekat 1.000 galung, tudung 1.000 buah, damar 1.000 kandi, jeranang 10 pikul dan lilin 10 pikul”. Yang menarik dari surat ini adalah bahwa surat itu tertulis dalam huruf Arab. Kalau huruf Arab sudah dikenal oleh Pangeran Samudera, adalah jelas menunjukkan bukti bahwa masyarakat Islam sudah lama terbentuk di Banjarmasin. Terbentuknya masyarakat Islam dan lahirnya kepandaian membaca dan menulis huruf Arab memerlukan waktu yang cukup lama. Kalau Kerajaan Islam Banjar terbentuknya pada permulaan abad ke- 16, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa masyarakat Islam di Banjarmasin sudah terbentuk pada abad ke- 15. Karena itulah masuknya agama Islam ke Kalimantan Selatan setidak-tidaknya terjadi pada permulaan abad ke- 15.
Perdagangan sangat ramai setelah bandar pindah ke Banjarmasin. Disini dapat pula kita lihat perbedaan perekonomian antara Negara Daha dan Banjarmasin. Negara Daha menitik beratkan pada ekonomi pertanian sedangkan Banjarmasin menitik beratkan pada perekonomian perdagangan. Hubungan itu terutama adalah hubungan ekonomi perdagangan dan akhirnya meningkat menjadi hubungan bantuan militer ketika Pangeran Samudera berhadapan dengan Raja Daha Pangeran Tumenggung.
Pangeran Samudera adalah cikal bakal raja-raja Banjarmasin. Dia adalah cucu Maharaja Sukarama dari Negara Daha. Pangeran Samudera terpaksa melarikan diri demi keselamatan dirinya dari ancaman pembunuhan pamannya Pangeran Tumenggung raja terakhir dari Negara Daha. Patih Masih adalah Kepala dari orang-orang Melayu atau Oloh Masih dalam Bahasa Ngaju.
Sebagai seorang Patih atau kepala suku, tidaklah berlebihan kalau dia sangat memahami situasi politik Negara Daha, apalagi juga dia mengetahui tentang kewajiban sebagai daerah takluk dari Negara Daha, dengan berbagai upeti dan pajak yang harus diserahkan ke Negara Daha. Patih Masih mengadakan pertemuan dengan Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, Patih Kuwin untuk mencari jalan agar jangan terus-menerus desa mereka menjadi desa.
Mereka sepakat mencari Pangeran Samudera cucu Maharaja Sukarama yang menurut sumber berita sedang bersembunyi di daerah Balandean, Serapat, karena Pangeran Tumenggung yang sekarang Menjadi raja di Negara Daha pamannya sendiri ingin membunuh Pangeran Samudera. Pangeran Samudera dirajakan di kerajaan baru Banjar setelah berhasil merebut bandar Muara Bahan, bandar dari Negara Daha dan memindahkan bandar tersebut ke Banjar dengan para pedagang dan penduduknya.
Bagi Pangeran Tumenggung sebagai raja Negara Daha, hal ini berarti suatu pemberontakan yang tidak dapat dimaafkan dan harus dihancurkan, perang tidak dapat dihindarkan lagi. Pangeran Tumenggung kalah, mundur dan bertahan di muara sungai Amandit.
Dalam perjalanan sejarah raja-raja di Kalimantan Selatan, bila diteliti dengan seksama nampak bahwa pergantian raja-raja dari Negara Daha sampai Banjarmasin dari:
1.    Maharaja Sari Kaburangan/Raden Sekar Sungsang
2.    Maharaja Sukarama
3.    Pangeran Mangkubumi/Raden Manteri
4.    Pangeran Tumenggung
5.    Pangeran Samudera
Bukan pergantian yang lumrah dari ayah kepada anak tapi dari tangan musuh yang satu ketangan musuh yang lain, melalui revolusi istana. Raden Sekar Sungsang usurpator pertama adalah pembangunan dinasti Hindu Negara Daha, dan Pangeran Samudera usurpator kedua adalah pembangun dinasti Islam Banjarmasin.
C.      Masuknya Islam di Kalimantan Timur
Pada masa pemerintahan Aji Raja Mahkota (1525-600) kerajaan Kutai Kartanegara kedatangan dua orang ulama dari Makassar, yaitu Syekh Abdul Qadir Khatib Tunggal yang bergelar Datok Ri Bandang dan Datok Ri Tiro yang dikenal dengan gelar Tunggang Parangan. Seperti yang di kisahkan dalam Silsilah Kutai, tujuan kedatangan dua ulama tersebut adalah untuk menyebarkan agama islam dengan cara mengajak Aji Raja Mahkota Untuk memeluk agama Islam, pada awalnya ajakan ulama ini di tolak oleh Aji Raja Mahkota dengan alasan bahwa agama di kerajaan Kutai Kartanegara adalah Hindu.
Langkah dakwah kedua ulama ini untuk mengajak Aji Raja Mahkota di tolak oleh sang Raja. Bahkan karena langkah dakwah ini buntu, Tuan ri Bandang akhirnya memutuskan kembali ke Makassar dan meninggalkan tunggang parangan di kerajaan Kutai Kartanegara. Sebagai jalan akhir, Tunggang Parangan menawarkan solusi kepada Aji Raja Mahkota untuk mengadu kesaktian dengan taruhan apabila Aji Raja Mahkota kalah, maka sang raja bersedia untuk memeluk islam. Akan tetapi jika Aji Raja Mahkota yang akan menang maka Tunggang Parangan akan mengabdikan hidupnya untuk kerajaan Kutai Kartanegara.
Solusi Tunggang Parangan di setujui oleh Raja Mahkota. Adu kesaktian akhirnya di gelar dan berujung dengan kekalahan Aji Raja Mahkota. Sebagai konskuensi kekalahan, maka Aji Raja Mahkota Akhirnya masuk Islam. Sejak Aji Raja Masuk Islam maka pengaruh Hindu yang telah tertular lewat interaksi dengan kerajaan  majapahit lambat laun luntur dan berganti dengan pengaruh Islam dan sebagian rakyat yang masih memilih untuk memeluk agama hindu kemudia tersisih dan berangsur-angsur pindah ke daerah pinggiran kerajaan.
Perkembangan kerajaan Kutai Kartanegara yang mempunyai lokasi berdekatan dengan kerajaan kutai yang lebih dulu ada di Muara Kaman pada awalnya tidak menimbulkan friksi yang berarti. Hanya saja ketika Kerajaan Kutai Kartanegara di perintah oleh Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura (1605-1635 M) terjadi perang antara dua kerajaan besar ini. Di akhir perang Kerajaan Kutai dan Kerajaan Kutai Kartanegara di lebur menjadi satu dengan nama Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Raja pertama dari penggabungan dua kerajaan ini adalah Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura (1605-1635 M).
Pada masa pemerintahan Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa ing Martadipura, pengaruh Islam yang telah masuk sejak pemerintahan Aji Raja Mahkota (1525-1600 M) telah mengakar kuat. Islam sangat berpengaruh pada sistem pemerintahan Kerajaan Kutai Karta Negara ing Martadipura. Indikator dari pengaruh islam terlihat pada pemakaian Undang-Undang Dasar Kerajaan yang di kenal dengan nama “Panji Salaten” yang terdiri dari 39 Pasal dan memuat sebuah kitab peraturan yang bernama “Undang-Undang Beraja Nanti” yang memuat 164 Pasal peraturan. Kedua Undang-Undang tersebut berisi peraturan tentang yang di sandarkan pada Hukum Islam.
Pemimpin pertama yang memakai gelar “Sultan” adalah Aji Su;tan Muhammad Idris. Beliau merupakan menantu dari Sultan Wajo La Madukelleng, seorang bangsawan Bugis di Sulawesi Selatan. Pada saat rakyat Bugis di Sulawesi Selatan sedang berperang melawan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), Sultan Wajo meminta bantuan Aji Sultan Muhammad Idris. Permintaan bantuan pun di penuhi oleh Aji Sultan Muhammad Idris. Kemudian berangkatlah rombongan Aji Sultan Muhammad Idris ke Sulawesi Selatan untuk membantu Sultan Wajo La Madukelleng. Dalam upaya memberikan bantuan tersebut Aji Sultan Muhammad Idris Meninggal dunia.
Selama kepergian Aji Sultan Muhammad Idris ke Sulawesi, kursi Sultan Kutai Kartanegara ing Martadi pura di pegang oleh dewan perwakilan. Tetapi ketika Aji Sultan Muhammad Idris Meninggal dalam pertempuran di Sulawesi, timbul perebutan tahta tentang pengganti sultan. Perebutan tahta terjadi antara kedua anak Aji Sultan Muhammad Idris, yaitu putra Mahkota Aji Imbut dan Aji Kado.
Pada awal awal perebutan tahtta, Aji Imbut terdesak oleh Aji Kado dan lari ke Sulawesi, ke tanah kakeknya, yaitu Sultan Wajo La MAdukelleng. Aji Imbut menggalang kekuatan untuk kembali menyerang Aji Kado yang telah menduduki ibukota kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang terletak di pemarangan, karena ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara telah berpindah dari Kutai lama ke Pemarangan sejak tahun 1732.
Aji Imbut Akhirnya menyerang Aji Kado di Pemarangan. Di dukung oleh orang-orang Wajo dan Bugis dan Aji Imbut berhasil mengalahkan Aji Kado dan memduduki singgasana Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan Gelar Aji Marhum Muslihuddin (1739-1782 M). sedangkan Aji Imbut dihukum mati dan dimakamkan di pulau jembayan.
Di Kalimantan Timur inilah dua orang da’i terkenal datang, yaitu Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, sehingga raja Kutai (raja Mahkota) tunduk kepada Islam diikuti oleh para pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah ini dibangunlah sebuah masjid. Tahun 1575 M, raja Mahkota berusaha menyebarkan Islam ke daerah-daerah sampai ke pedalaman Kalimantan Timur sampai daerah Muara Kaman, dilanjutkan oleh Putranya, Aji Di Langgar dan para penggantinya.
D.      Masuknya Islam di Kalimantan Tengah
seorang ulama yang telah berjasa besar dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Kalimantan, khususnya di wilayah Kotawaringin. Ulama tersebut adalah Kiai Gede, seorang ulama asal Jawa yang diutus oleh Kesultanan Demak untuk menyebarkan ajaran Islam di Pulau Kalimantan. Kedatangan Kiai Gede tersebut ternyata disambut baik oleh Sultan Mustainubillah. Oleh sang Sultan, Kiai Gede kemudian ditugaskan menyebarkan Islam di wilayah Kotawaringin, sekaligus membawa misi untuk merintis kesultanan baru di wilayah ini.
Berkat jasa-jasanya yang besar dalam menyebarkan Islam dan membangun wilayah Kotawaringin, Sultan Mustainubillah kemudian menganugerahi jabatan kepada Kiai Gede sebagai Adipati di Kotawaringin dengan pangkat Patih Hamengkubumi dan bergelar Adipati Gede Ing Kotawaringin. Namun, hadiah yang paling berharga dari sang Sultan bagi Kiai Gede adalah dibangunnya sebuah masjid yang kelak bukan sekedar sebagai tempat beribadah, melainkan juga sebagai pusat kegiatan-kegiatan kemasyarakatan bagi Kiai Gede dan para pengikutnya. Bersama para pengikutnya, yang waktu itu hanya berjumlah 40 orang, Kiai Gede kemudian membangun Kotawaringin dari hutan belantara menjadi sebuah kawasan permukiman yang cukup maju.
Kalaupun wilayah Kotawaringin sekarang ini menjadi salah satu kota yang terbilang maju diKalimantan, hal itu tidak dapat dipisahkan dari jasa besar Kiai Gede dan para pengikutnya. Kiai Gede membangun Sebuah Masjid yang bernama Masjid Kiai Gede, Mesjid ini menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Kotawaringin.Masjid Kiai Gede dibangun pada tahun 1632 Miladiyah atau tahun 1052 Hijriyah, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah (1650-1678 M), raja ke empat dari Kesultanan Banjarmasin.
BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Setelah Islam datang ke Indonesia terutama di Pulau Kalimantan banyak perubahan-perubahan yang terjadi terutama bagi rakyat yang menengah ke bawah. Mereka lebih di hargai dan tidak tertindas lagi karena Islam tidak mengenal sistem kasta, karena semua masyarakat memiliki derajat yang sama. Islam juga membawa perubahan-perubahan baik di bidang politik, ekonomi dan agama. Islam juga bisa mempersatukan seluruh masyarakat Indonesia untuk melawan dan memgusir para penjajah.
B.       SARAN
Kami yakin dalam penulisan makalah ini banyak sekali kekurangannya. Untuk itu kami mohon kepada para pembaca agar dapat memberikan saran, kritikan, atau mungkin komentarnya demi kelancaran tugas kelompok kami ini.

DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011
Muhammad Irsyad, Masuk dan Berkembangnya Islam dan Sejarah Masjid Sultan Abdurahman  Pontianak, Kalimantan Barat. diakses 17 Januari 2016.

Musni Umberan, dkk, Sejarah Kebudayaan Kalimantan, Jakarta: Balaipustaka, 1977

Ratu Suntiah dan Maslani, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Interes Media, 2014

MUHAMMAD ALI PASHA (1765-1849)

BAB IPENDAHULUANPembaharuan lebih dikenal dengan sebutan modernisasi, yang  lahir dari dunia barat. Sebutan mdernisasi ada sejak terkait dengan masalah agama. Kata modernisasi dalam masyarakat barat mengandung pengertian pemikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, agar semua itu dapat disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaan baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Namun bukan berarti pembaharuan disini mengubah isi Al-Quran dan Hadist. Mulai abad  pertengahan merupakan abad gemilang bagi umat Islam.Pada abad kedelapanbelas terjadi persaingan keras antara Perancis dan Inggris untuk berebut pengaruh di dunia Timur. Oleh karena itu Napoleon Bonaparte (1769-1821) dari Perancis melihat kedudukan Mesir, secara geografis, sangat strategis sebagai batu loncatan untuk menguasai India, meskipun nantinya usahanya gagal di Palestina.[1]Napoleon Bonaparte bersama tentara Perancis mendarat di Alexandria, Mesir, pada tanggal 2 Juli 1798. Saat itu pertahanan kerajaan Turki Usmani dan Mamluk berada dalam keadaan lemah. Berdasarkan  literatur yang ada disebutkan bahwa kota-kota penting seperti Alexandria, Rasyid dan Kairo telah jatuh ketangan  Napoleon Bonaparte.[2]Muhammad Ali Pasha menyadari akan kemunduran orang-orang Mesir setelah pendudukan Napoleon Bonaparte, semenjak itulah M. Ali Pasha mengadakan pembaharuan dalam masyarakat Mesir dalam bidang ekonomi, militer, pendidikan dan publikasi. M. Ali Pasha dalam hal pendidikan mendirikan Sekolah Modern (tingkat dasar, menengah dan tinggi). M. Ali Pasha juga melakukan inovasi pendidikan dalam lini kurikulum meliputi: Ilmu Pengetahuan Bahasa, Ilmu Pengetahuan Sosial, Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, dan Pengetahuan Keterampilan. Pembaharuan inilah menurutnya dapat membangun negeri Mesir dari ketertinggalan.BAB IIPEMBAHASANMUHAMMAD ALI PASHA (1765-1849)A.      Biografi Muhammad Ali PashaMuhammad Ali Pasha dilahirkan pada bulan Januari 1765 M, di Kawalla, sebuah kota yang terletak dibagaian utara Yunani dan meninggal di Mesir pada tahun 1849. Negeri inti telah menjadi bagaian Negara Turki Utsmani sejak ditaklukkannya oleh Sultan Muhammad II Al-fatih (855 H/1451 M – 886H/1481 M) pada tahun 857 H/1453 M dan baru dapat melepaskan diri dari kekuasaan Istanbul pada tahun 1245 H/1829 M.[1]Ayah Muhammad Ali Pasha bernama Ibrahim Agha, seorang  imigran Turki, kelahiran Yunani. Ia mempunyai 17 orang putera dan salah seorang diantaranya bernama Muhammad Ali Pasha. Pekerjaan ayahnya disamping sebagai penjual rokok juga sebagai kepala petugaspada sebuah kota didaerahnya.Pada awal keahadiran Muhammad Ali pasha di Mesir, hubungannya berjalan dengan mudah menyesuaikan diri dengan masyarakatnya. Hampir setiap masalah yang muncul dapat diselesaikan, karena Ia dikenal sebagai perwira yang luwes dan mempunyai wawasan masa depan. Tetapi ketika Ia mulai menerapakan ide-idenya, maka mulailah muncul tantangan dari penduduk Mesir terutama dari kaum ulama.[2]Namun karena kearifannya, Muhammad Ali Pasha dapat meredam setiap reaksi yang muncul sehingga dalam waktu singkat Ia dapat mewujudkan program pembaharuannya dalam berbagai bidang antara lain bidang militer, ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan.Pertama bidang militer, seperti halnya dengan raja-raja lainnya, Muhammad Ali Pasha pertama-tama melakukan rekontruksi terhadap kekuatan militernya, karena Ia yakin bahwa kekuasaan hanya dapat dipertahankan dan diperbesar dengan kekutan militer. Tetapi berlainan dengan raja-raja lain, Ali Pasha mengerti bahwa dibelakang kekuatan militer itu mesti ada kekuatan ekonomi yang sanggup membelanjai pembaharuan dalam bidang militer dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengan urusan militer.Pendudukan Mesir oleh Napoleon dengan kemenangan perang yang amat cepat telah membuka mata Muahmmad Ali Pasha tentang kelemahan umat Islam. Untuk melawan Napoleon Bonaparte yang telah menguasai Mesir, Sultan Hamid III (1789-1807) mengumpulkan tentara. Salah seorang perwiranya ialah Muhammad Ali Pasha.Setelah Muhammad Ali Pasha dewasa Ia bekerja sebagai pemungut pajak, namun karena kecakapannya dalam pekerjaan ini, Ali Pasha menjadi kesayangan Gubernur Utsamani setempat. Akhirnya Ali Pasha diangkat sebagai orang yang membantu Gubernur tersebut dan mulai dari waktu itu bintangnya terus menaik. Selanjutnya Ia masuk dunia militer dan dalam lapangan ini juga menujukkan kecakapan dan kesanggupannya, sehingga pangkatnya cepat naik menjadi perwira. Ketika pergi ke-Mesir Ali Pasha mempunyai kedudukan wakil perwira yang mengepalai pasukan yang dikirim dari daerahnya.Ali Pasha dalam pertempuran dengan tentara Perancis, menujukkan keberanian yang luar biasa. Karena itu, Ali Pasha diangkat menjadi colonel. Ketika tentara Perancis meninggalkan Mesir pada tahun 1801. Ali Pasha betul-betul menjadi penguasa penuh Mesir. Ia menjadi wakil resmi sultan (Kerajaan Utsmani) di Mesir. Ia menjalankan kekuasaan sebagai dictator. Pada tahun 1805, Ia memberinya gelar Pasha pada dirinya sendiri.Muhammad Ali Pasha mengetahui bahwa kekuasaannya hanya dapat dipertahankan dengan kekuasaan militer. Di belakang kekuatan militer itu harus ada kekuatan ekonomi. Inilah dua pemikiran pokok beliau. Muahmmad Ali Pasha turut memainkan peranan penting dalam kekosongan kekuasaan politik yang timbul sebagai akibat dari kepergian tentara waktu itu. Kaum Mamluk yang dahulu lari dikejar Napoleon kembali ke Kairo untuk memegang kekuasaan mereka yang lama.
Dari Istanbul datang pula Pasha dengan tentara Utsmani. Kedua golongn ini berusaha keras untuk merebut kekuasaan bagi pihaknya. Simpati rakyat Mesir menaruh rasa benci kepada kaum Mamluk dapat diperolehnya. Pasukan dipimpinnya bukan terdiri dari orang-orang turki, tetapi dari orang-orang Albania. Kedua unsur ini memperkuat kedudukannya untuk memasuki pertarungan merebut kekuasaan.Setelah memasuki puncak kekuasaan di Mesir Muahmmad Ali Pasha mulai memusnahkan pihak-pihak yang mungkin akan menentang kekuasaannya, terutama kaum Mamluk. Kesempatan timbul ketika yang tersebut belakangan ini berusaha untuk membunuh Muhammad Ali, tetapi konspirasi mereka ketahuan, pimpinan-pimpinannya ditangkap dan dibunuh. Muhammad Ali Pasha bersikap seolah-olah mengampuni yang lain, dan suatu ketika mengundang mereka berpesta di Istananya di bukit Mukattam.Setelah mereka semua masuk, pintu-pintu yang membawa ke daerah Istana dikunci dan sebelum pesta selesai Ali Pasha diberi tanda untuk menyembelih mereka semuanya. Menurut cerita dari 470 kaum Mamluk, hanya seorang yang dapat melepaskan diri dengan melompat dari pagar istana kejurang yang ada di bukit Makattam itu. Kaum Mamluk yang ada diluar Kairo kemudian diburu, mana yang dapat dibunuh dan sebahagian kecil dapat melarikan diri ke Sudan. Pada akhir tahun 1811, kekuatan kaum Mamluk di Mesir telah habis.[3]Aspek lain yang menarik dari kebijakan Muhammad Ali Pasha adalah pengiriman mahasiswa-mahasiswa Mesir ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria untuk mempelajari berbagai bidang kajian modern. Setelah kembali mereka diminta untuk menterjemahkan karya-karya teknis diberbagai bidang. Muhammad Ali Pasha mendirikan penerbitan untuk menyebarluaskan ilmu-ilmu baru ini.
Meski pada mulanya Ia bermaksud membatasi skop kegiatan para mahasiswa ini hanya pada skil-skil yang akan mendukung kekuasaannya, dalam kenyataannya tidaklah demikian. Para mahasiswa yang dikirim ke Eropa ini pada gilirannya membawa kembali ide-ide baru, kemungkinan besar, lebih banyak dari yang semula ia kehendaki.B.       Gerakan Pembaharuan Muhammad Ali PashaMuhammad Ali Pasha (1765-1849) perlu deberi sedikit catatan. Meskipun sebenarnya lebih tepat disebut sebagai tokoh sejarah politik, akan tetapi beberapa kebijakkan yang diambilnya untuk tujuan politik pribadinya ternyata berkaitan dengan timbulnya pembaharuan pemikiran di Timur Tengah khususnya di Mesir. Kepiawaiannya memanfaatkan situasi membuat Muhammad Ali naik ke tampuk kekuasaan. Pada tahun 1805 Ia berhasil memantapkan kedudukannya sebagai penguasa, diakui oleh sultan di Istanbul dan diterima oleh rakyat Mesir.[4]Sebagai kepala pemerintahan karir Muhammad ali pasha, sangat menonjol pada permulaan dasawarsa kedua dari abad ke-19 ia sebagai negarawan dan politikus cukup berpengaruh di afrika Utara dan dunia arab. Pada tahun 1228/1813 Ia mengirimkan dari Mesir satu ekspedisi atas permintaan Sultan Utsmani ketika itu, dan ekspedisi ini dapat membebaskan kota Mekkah dan Madinah dalam tahun itu juga.Muhammad Ali Pasha mengetahui bahwa kekuasaanya hanya dapat diperthankan dengan kekuatan militer. Dibelakang militer itu harus ada kekuatan ekonomi. Untuk memperkuat perekonomian ia memperbaiki irigasi lama, membuat irigasi baru, penanaman kapas, mendatangkan ahli dari eropa dan membuka sekolah pertanian pada tahun 1863. Tanah kaum Mamluk dirampas pemerintah, begitu pula dengan tanah orang-orang kaya di Mesir.Muhammad Ali Pasha menganggap bila tanah rakyat sudah dikuasi, akan terjadi pengelolaan tunggal pertanian yang merupakan tulang punggung pertanian Mesir saat itu. Muhammad Ali Pasha ingin memonopoli perdagangan di negerinya. Untuk memperkuat militer, Ia tidak segan-segan mendatangkan tenaga-tenaga dari Perancis. Tak lama kemudian terbentuklah Nizam-ijedid yang merupakan model baru angkatan bersenjata Muhammad Ali Pasha.
Hal yang menghebohkan diantaranya merampas kejayaan para penguasa Mesir dan memanfaatkan harta kaum Mamluk yang sudah dilakukannya. Kejayaan inilah yang dijadikannya model untuk membiayaai sector pertanian, sistem irigasipun diterapkannya, dengan begitu suplai bibit kapas dari India, dan Sudan yang didatangkannya besar-besaran. Tenaga ahli pertanian dari luar negeri juga didatangkan untuk memperlicin industri-industri modern di Mesir.Kendati buta huruf, perhatiannya terhadap dunia pendidikan sungguh sangat besar, ini terbukti dengan didirikannya kementrian pendidikan pada tahun 1815, yang sebelumnya tidak dikenal. Beberapa sekolah modern seperti sekolah militer tahun 1815, sekolah teknik 1816, sekolah kedokteran 1827, sekolah apoteker 1829, sekolah pertambangan 1834, sekolah pertama 1836, sekolah penerjemahan 1836.Kurikulum-kurikulum pendidikan dirombak dan beberapa mata pelajaran menyesuaikan diri sesuai kebutuhan saat itu. Beberapa tambahan mata pelajaran umum tadinya tidak dirumuskan termasuk mempelajari secara insentif bahasa Eropa menjadi kewajiban di Sekolah-sekolah menengah dimaksud. Begitu juga spesialisasi keahlian dibidang-bidang terapan mengalami penekanan yang makin penting.Langkah-langkah Muhammad Ali Pasha tesebut sangat baru bagi rakyat Mesir tentu saja mereka menyambut dengan gembira. Apalagi banyak pemuda cerdik dan pandai banyak yang dikirim ke barat dalam usaha mempelajari bahasa eropa dan metode penerjemahan. Muhammad Ali Pasha melakukan perbaikan dan pembaharuan di bidang militer dan ekonomi.Setelah menghancurkan militer Mamluk ia membangun kembali militer modern, mencakup angkatan darat dan laut. Dalam hal ini ia memanfaatkan tenaga-tanga militer Perancis sebagai pelatih.[5] Pada tahun 1812 tanah wakaf dijadikan milik Negara, orang-orang yang dahulunya deberi hak untuk menguasai tanah, kini berstatus penyewa tanah-tanah Negara. Perdagangan luar negeri dimonopoli oleh Negara. Kemudian tahun 1815 semua hasil kapas dan bahan-bahan pakaian dikuasai oleh Negara., selanjutanya hasil biji-bijian dan hasil tambang juga berada dibawah penguasaan Negara.[6]Muhmamad Ali Pasha tampaknya berusaha untuk merebut seluruh hasil perekonomian Negara, meskipun harus mengorbankan sistem kendali modal dari para pemilik tanah dan kaum modalis berstatus penduduk pribumi. Kebijaksanaan yang dijalankan Muhammad Ali Pasha dalam rangka meningkatkan perekonomian di Mesir pada tahun-tahun pertama memang mendapat protes dari kaum pribumi, akan tetapi Muhammad Ali juga menyadari bahwa konsekuensi logis dari kemajuan suatu bangsa adalah adanya kesedihan rakyatnya untuk menyerahkan sebagaian hasil miliknya kepada Negara.Para pelajar dan sarjana yang selesai tugas belajarnya disuruh kembalai untuk mengabdikan ilmunya. Disnilah titik awal sejarah modern secara nyata bagi rakyat Mesir. Ilmu pengetahuan modern pun telah mempengaruhi pola intelektual dan sikap ilmiah generasi muda Mesir, mereka selain bekerja sebagai birokrat, pendidik ada yang secara langsung menjadi arsitek bagi modernisasi Mesir dibawah pemerintahan Muhammad Ali Pasha.Usaha-usaha pembaharuan perekonomian yang diterapkan oleh Muhammad Ali Pasha di Mesir meskipun mendapat kecaman pada awalnya, bahkan sebagaian usaha perekonomian dianggap tidak berhasil, namun secara umum sistem perekonomiannya memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan bangsa Mesir terutama dalam masa-masa selanjutnya.Pembaharuan yang dilkukan oleh Muhammad Ali dibidang pendidikan yang mana, sebelumnya telah diuraikan, banyak didirikannya sekolah-sekolah bagi rakyatnya, boleh dikatakan serupa inilah barulah kali ini didirikan didunia Islam, sekolah-sekolah yang jauh berlainan dengan sekolah-sekolah tradisional hanya mengjaarkan agama. Ada tiga hal yang terpenting yang dihadapi saat itu, yakni soalguru, soal mahasiswa dan soal buku.Untuk mengatasi persoalan guru, Ali mengirimkan mahasiswa-mahasiswa keluar Mesir, murid-murid dibujuk dengan pemberian gaji yang menarik. Mereka diberi program pelajaran yang intensif yang jauh berlainan dari program di sekolah-sekolah tradisional (madrasah). Buku-buku yang dipakai disekolah Eropa diterjemahkan kedalam bahasa Arab, oleh penerjemah yang pandai dalam bahasa Asing, dan yang bekerja di Dewan Muhammad Ali, oleh pegawai dan departemen-departemen dan oleh mahasiswa yang sedang belajar di Eropa.Tentunya cara yang dipakai ini membawa hasil yang kurang memuaskan karena penerjemah-penerjemah bukanlah ahli dalam ilmu-ilmu yang terkandung dalam buku-buku yang perlu diterjemahkan itu hasil penerjemahan tidak sempurna dankarena penerjemahan terkadang adalah pekerjaan sambilan, penerjemahan berjalan dengan lambat. Dalam hubungan ini ada diceritakan bahwa sekumpulan mahasiswa yang baru selesai dari studinya dan kembali dari Eropa, semuanya dikunci dalam suatu benteng didekat Istana Muhammad Ali, dan diberikan buku-buku untuk diterjemahkan dalam bahasa Perancis ke dalam bahasa Arab.[7]Selain itu di Paris didirikan satu rumah Mesir untuk menampung para pelajar yang datang untuk belajar, dan para pelajar yang dikirim tersebut diarahkan untuk menekuni ilmu-ilmu kemiliteran darat dan laut, arsitek, kedokteran, dan obata-obatan. Pada fase-fase inilah Muhammad Ali Pasha semakin dikenal sebagai pembaharu di Mesir, orang yang tadinya menyangsikan keberadaannya di Mesir kembali dari Eropa dan sebaliknya orang-orang Eropa yang sengaja datang ke Mesir berangsur-angsur kembali ke Negara mereka, kemudian diganti dengan tenaga baru sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang semakin pesat.Ide-ide modernisme Muhammad Ali Pasha  mengalir deras yang diwujudkannya dalam program-program fisik yang sangat berarti bagi Mesir. Cakrawala Negara-negara maju Eropa juga dikenal, padahal selam ini masih asing bagi mereka. Walaupun Ali telah meletakkan dasar-dasar pembaharuan di Mesir, namun apa yang dilakukannya tersebut masih bersifat fisik dan belum banyak menyentuh secara vital terhadap sumber-sumber penting dalam Islam.Sebagai tokoh pembaharuan Muahmmad Ali pasya mengadakan pembaharuan dalam masyarakat Mesir dengan memodernisasikan dibidang pertanian, perdagangan, perindustrian, militer, pendidikan, dan publikasi. Dalam bidang publikasi, Muhammad Ali menertibkan sebuah surat kabar yang bernama al-waqa’I al-mishriyat ditahun 1244/1828. Surat kabar ini baru memuat pengetahuan-pengetahuan tentang kemajuan-kemajuan barat setelah berada dibawah pimpinan al-thahtawi.[8]Dari kegiatan yang dimulai Muhammad Ali inilah lahir generasi pertama inteligensi Mesir modern. Dan pada dekade 1830-an generasi awal ini telah mulai berperan dalam sejarah Mesir. Berbagai disiplin ilmu dikembangkan untuk mendukung pembangunan dan kemajuan Mesir, seperti peningkatan mutu dalam bidang kedokteran, ilmu pasti, ilmu fisika, dan ilmu sastra. Asimilasi dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan semakin meluas sehingga Muhammad Ali Pasha semakin tersohor, bukan hanya di belahan dunia juga sampai melintasi benua-benua lainnya.C.      Inovasi Dalam Lembaga Pendidikan Di MesirPembaharuan Pendidikan di Mesir tidaklah terjadi dalam kevakuman kebudayaan dan peradaban masyarakatnya. Akan tetapi karena adanya kontak yang terjadi antara masyarakat Mesir dengan peradaban Barat Modern selama pendudukan Napoleon Bonaparte dari perancis yang menyadarkan mereka atas kemundurannya.Muhammad Ali Pasha, pemimpin Mesir, ketika itu yakin percaya bahwa, untuk membangun negeri Mesir dalam berbagai bidang sangat diperlukan ilmu-ilmu modern dan sains sebagaimana yang dikenal di Barat. Untuk itulah ia memodernisasikan lembaga pendidikan Islam dengan mendirikan sekolah-sekolah modern dan memasukan ilmu-ilmu modern dan sains kedalam kurikulumnya. Sekolah-sekolah inilah yang kemudian yang dikenal sebagai sekolah modern di Mesir pada khusunya dan dunia Islam pada umumnya.Saat itu Mesir masih mempunyai sistem pendidikan tradisional yaitu kuttab, masjid, madrasah, dan jami’ al-Azhar. Sementara itu M. Ali Pasha melihat jika Ia memasukkan kurikulum modern kedalam lembaga pendidikan tradisional tersebut maka sangat sulit oleh karena itulah Ia mengambil jalan alternatif dengan cara mendirikan sekolah modern disamping madrasah-madrasah tradisional yang telah ada pada masa itu masih tetap berjalan.Adapun nama-nama sekolah modern yang didirikan Muhammad Ali Pasya diantaranya adala:[9]
No
Nama Sekolah
Tahun Berdiri
Tempat
Tingkat
1
Sekolah Militer
1815
Kairo
Menengah
2
Sekolah Teknik
1816
Kairo
Menengah
3
Sekolah Kedokteran
1827
Kairo
Menengah
4
Sekolah Apoteker
1829
1829 Kairo
Menengah
5
Sekolah Pertambangan
1834
Kairo
Menengah
6
Sekolah Pertanian
1836
Kairo
Menengah
7
Sekolah Penerjemahan
1836
Kairo
Menengah
8
Sekolah Dasar
1833
Kairo
Dasar
9
Sekolah Menengah Umum
1825
Kasr Al-‘ayni
Menengah
10
Politeknik
1820
Kairo
Tinggi
11
Sekolah Accounting
1826
Kairo
Menengah
12
Sekolah Sipil
1829
Kairo
Menengah
13
Sekolah Irigasi
1831
Kairo
Menegah
14
Sekolah Industri
1831
Kairo
Menengah
15
Sekolah Administrasi
1834
Kairo
Menengah
16
Sekolah Pertanian
1834
Kairo
Menengah
17
Sekolah Perwira A. Laut
-
Alexandria
Menengah
18
Akademi Industri Bahari
-
Alexandria
Tinggi
19
Sekolah Tinggi Kedokteran
1823
Kairo
Tinggi
 Jika kita perhatikan sistem pendidikannya, maka semua sekolah-sekolah yang didirikan oleh Muhammad Ali Pasha adalah memiliki ciri sekolah modern. Maka pada pemerintahannya ada dua jenis pendidikan yang menurutnya keduanya memliki fungsi dan peran berbeda dalam menunjang kemajuan dan perkembangan Mesir saat itu. Sekolah tradisional adalah sekolah yang hanya mempelajari ilmu agama yang alumninya tidak menguasai ilmu umum. Sedangkan sekolah modern akan mengeluarkan alumni yang menguasai ilmu umum yang dapat menstimulus perkembangan pembaharuan Mesir.[10]Kita perhatikan bahwa Muhammad Ali pasha pada masanya sudah melakukan penjenjangan pendidikan itu menunjukkan banyaknya pengetahuan yang diajarkan disana dan kita lihat banyaknya perbedaan usia masyarakat yang menuntut ilmu, tingkat kecerdasan, dan satu yang menarik pada masa itu sudah dapat kita lihat banyak siswa yang kompetensinya dapat dikembangkan berdasarkan kemampuannya karna tersedianya jurusan dan program studi.Pada awalnya Kolonel Save, asal perancis, disebutkan setelah masuk islam berganti nama Sulaiman Pasya. Sulaiman diangkat menjadi pimpinan sekolah Militer sejak dibuka pada tahun 1231/1815 dan jabatan ini dipegangnya sampai pada tahun 1250/1834 karena pada tahun itu Sulaiman diberikan jabatan baru sebagai Inspektur Jenderal Sekolah dalam Diwan al-jihadiyya.Muhammad Ali Pasha juga mendatangkan tenaga ahli dari yang berasal dari Perancis yaitu Clot Bey menjabat sebagai Direktur Sekolah Tinggi Kedokteran tahun 1234/1827 sampai tahun 1266/1849  selama 22 tahun. Ketergantungannya terhadap tenaga ahli asing berkurang secara berangsur-angsur dengan pulangnya mahasiswa Mesir yang belajar di Eropa. Salah satu diantara yang pulang dari Eropa adalah al-Thahthawi pulang kemesir tahun 1247/1831. Setelah sekolah penerjemahan dibuka dipercayakanlah al-Thahthawi untuk menjabat sebagai direktur.[11]Dalam hal manajemen sekolah-sekolah modern tersebut awalnya di bawah pengawasan Departemen Pertahanan (Departement of Army), untuk melancarkan menejerial maka Departemen tersebut membentuk sebuah lembaga Diwan al-jihadiyya. Setelah tugas pengawasan sekolah dipisahkan dari Departemen Pertahanan, maka efek dari kebijakan tersebut sekolah-sekolah tersebut berada di bawah tanggung jawab Diwan al-jihadiyya, selanjutnya agar memudahkan koordinasi yang efektif dan efisien antar sekolah-sekolah tersebut maka dibentuklah sebuah komisi yang bernamaCouncil Supervisor de Instruction Publique atau Majlis Syura al-Makatib pada tahun 1246/1830.
Lembaga tersebut bertugas untuk merencanakan perluasan pendidikan dikalangan masyarakat Mesir, dan juga bertugas menambah pembangunan sekolah-sekolah dasar dan dua buah sekolah menengah umum, yang bertempat di Kairo dan Alexandria dan beberapa sekolah khusus. Lembaga ini mempunyai Inspektur Jendral Sekolah, sejak tahun 1250/1834 ditunjuklah Kolonel Seve sebagai Inspektur.Setelah itu Departemen Diwan al-jihadiyya berubah nama menjadi Departemen Diwan al-Madaris atau disebut Ministere de l’instruction Publique, yang setelah itu berubah lagi menjadi Kementrian Pendidikan, kementrian ini selain bertugas mengawasi dan melakukan pembangunan sekolah-sekolah baru juga kementrian ini bertugas menata kembali penerbitan majalah al-waqa’i al-Mishriyya.Diwan al-Madaris ini tugasnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bahasa Arab, bagian bahasa Turki, bagian Teknik.Dari informasi di atas, Muhammad Ali Pasha mengadakan pembaharuan yang besar dalam lembaga dan manajemen pendidikan saat itu. Dalam hal kurikulum Muhammad Ali Pasha menghendaki adanya pembaharuan dalam bidang kurikulum pendidikan di Mesir saat itu ialah, dia ingin menyesuaikan kurikulum tersebut dengan keadaan dan tuntutan zaman serta relevan dan selaras dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai sehingga nantinya tidak jauh tertinggal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa. Kurikulum tersebut masih asing di lingkungan sekolah-sekolah Mesir dan masyarakatnya, akan tetapi Muhammad ‘Ali Pasya berhasil mengadobsi ilmu-ilmu modern dari Barat tersebut, salah satu yang melatar belakangi keberhasilan tersebut adalah dikarenakan dirinya sebagai raja.Adapun ilmu-ilmu modern yang dimasukkan Muhammad ‘Ali Pasya didalam Kurikulum Pendidikan yaitu:[12]
No
Bidang Disiplin Ilmu
Mata Pelajaran
1
Ilmu Pengetahuan Bahasa
Bahasa Itali
Bahasa Perancis
Bahasa Turki
Bahasa Persia
2
Ilmu Pengetahuan Sosial
Sejarah
Geografi
Ekonomi
Antropologi
Administrasi Negara
Pendidikan Kemasyarakatan
Filsafat
Militer
Hukum
3
Ilmu Pengetahuan Alam
Fisika
Farmasi
Ilmu Alam
Ilmu Kedokteran
Ilmu Teknik
Arsitek
Kimia
4
Matematika
Arithmatic
Matematika
5
Pengetahuan Keterampilan
Keterampilan
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
 Perlu kita pertegas bahwa didalam Islam tidak ada dikotomi ilmu antara ilmu agama dan ilmu umum karena keduanya adalah satu kesatuan ilmu yang saling mendukung dan pada masa Khalifah Umar Bin Khattab adalah orang yang pertama-tama memperluas isi Kurikulum Pendidikan Islam dengan menambahkan keterampilan berenang, menunggang kuda dan memanah.Untuk mengajar disekolah yang didirikan Muhammad Ali Pasha mendatangkan tenaga pengajar dari Eropa, akan tetapi tenaga pengajar dari Eropa hanyalah sementara, karena untuk mengaji mereka memerlukan biaya yang cukup mahal dan saat mengajar mereka juga memerlukan penerjemah-penerjemah yang akan menterjemahkan materi yang mereka ajarkan kedalam bahasa Arab. Maka untuk mengatasi kesulitan itu, Muhammad Ali Pasha berusaha mengirimkan pelajar-pelajar Mesir untuk belajar ke Eropa, tujuan utamanya adalah Italia, Perancis, Inggris dan Austria. Pengiriman pelajar-pelajar Mesir ke Eropa dilaksanakan tiga gelombang.Gelombang pertama, antara tahun 1224/1809-1235/1819, sebanyak 28 orang dikirim ke italia yang tersebar di kota Leghore, Miglan, Florence, dan Rome untuk mempelajari ilmu teknik, militer, industri kapal dan ilmu perecetakan.Gelombang kedua, antara tahun 1242/1826-1260/1844, sebanyak 319 orang dikirim ke Paris, Perancis, dan juga dikirim beserta mereka seorang tokoh intelektual sekaligus ia seorang pengarang yang terkenal yaitu al-Thahthawi yang bertugas untuk menjadi imam mahasiswa Mesir yang belajar di sana.Gelombang ketiga, antara tahun 1260/1844-1280/1863, dikirim sebanyak 89 orang dikirim lagi ke Perancis. Dalam tahap ketiga ini turut juga beberapa orang dari keluarga Muhammad Ali Pasha.BAB IIIKESIMPULAN DAN PENUTUPA.      KesimpulanPembaharuan dalam Islam dapat didefenisikan sebagai pemikiran, gagasan, gerakan, dan usaha untuk merubah ajaran-ajaran Islam dalam bentuk faham-faham, tradisi-tradisi. Institusi-institusi lama, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam melakukan pembaharauan Muhammad Ali Pasha, banyak melakukan pembaharuan, diantaranya dibidang pendidikan, militer, ekonomi, pertanian, perdagangan, dan publikasi hamper disegala aspek pemerintahan.Muhammad Ali Pasha adalah seorang pemimpin yang mampu melakukan perbaikan-perbaikan dan pembaharuan diberbagai bidang. Hal inilah yang membuat masyarakat Mesir mengagumi dan menyenanginya. Muhammad Ali Pasha sebagai tokoh pembaharuan memiliki pola piker yang maju, sehingga membawa Mesir pada tingkat perkembangan yang begitu pesat, gagasan-gagasan modernisasinya tersebut megalir deras dan dapat diterima oleh kalangan masyarakat Mesir. Namun, apa yang dilakukannya tersebut masih belum sepenuhnya yang selanjutnya akan dilanjutkan oleh keturunan-keturunan Mesir lainnya.B.       Penutup
Demikian yang dapat penulis sajikan mengenai pembahasan tentang Muhammad Ali Pasha (1765-1849) dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Tentunya dalam pembahasan ini banyak kekurangan, kritik dan saran beserta masukan yang sifatnya membangun sangatlah penulis harapkan demi untuk lebih baiknya dalam pembahasan-pembahasan yang mendatang. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.DAFTAR PUSTAKAAbd Mukti, Pembaharuan Lembaga Pendidikan di Mesir, Bandung : Cita Pustaka Media Perintis: 2008 Ahmad Syalabi, Mausu’at al-Tarikh wa al-Hadarat al-Islamiyat, Jilid V, TP: Maktabat  al-Nahdhat al-Mishriyat: 1973 Hasan,  Asari, Modernisasi Islam, Bandung: Citapustaka Media: 2002 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang: 1975 .............., Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II. Cet. Keenam, Jakarta: Universitas Indonesia Press: 1986 .............., Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Cet. Ketujuh, Jakarta: Indonesia Bulan Bintang: 1990 Wahyudin, Nur Perkembangan Pemikiran Moderen di Dunia Islam, Medan: IAIN SU: 2000 
[1] Abd Mukti, Pembaharuan Lembaga Pendidikan di Mesir, (Bandung : Cita Pustaka Media Perintis, 2008)h.26[2] Wahyudin, Nur Perkembangan Pemikiran Moderen di Dunia Islam, (Medan: IAIN SU, 2000), h.10[3] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h.35[4] Hasan,  Asari, Modernisasi Islam, (Bandung: Citapustaka Media, 2002), h. 56[5] Hasan, Asari, Modernisasi...,h. 57[6] Wahyudin, Nur Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, (Medan: IAIN SU, 2000), h. 13[7] Hasan, Asari, Modernisasi..., h. 38-39[8] Abd Mukti, Pembaharuan Lembaga Pendidikan di Mesir (Bandung : Cita Pustaka Media Perintis, 2008)h. 34-35[9] Ahmad Syalabi, Mausu’at al-Tarikh wa al-Hadarat al-Islamiyat, Jilid V, (tp: Maktabat  al-Nahdhat al-Mishriyat, 1973), h. 356[10] Abd Mukti, Pembaharuan..., h. 78[11] Abd Mukti, Pembaharuan, h. 83[12] Abd Mukti, Pembaharuan, h. 88-89
[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II. Cet. Keenam, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986), h. 96[2] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Cet. Ketujuh, (Jakarta: Indonesia Bulan Bintang, 1990), h. 29